Rabu, 02 November 2011

Menduniakan Batik Sebagai Warisan Budaya Dunia

Menduniakan Batik Sebagai Warisan Budaya Dunia



 Batik kini menjadi unggulan dari sektor dan budaya Indonesia di dunia. Sehingga program menduniakan batik, telah menjadi misi dari bangsa ini untuk membawa nama Indonesia ke dalam kancah perdagangan dunia Internasional. Dan tidak bisa dipungkiri batik adalah salah satu karya besar bangsa Indonesia yang saat ini telah diakui oleh dunia dan bahkan organisasi dunia, UNESCO pun menasbihkan karya tersebut sebagai warisan dunia asal Indonesia.

Batik saat ini tidak hanya dilakukan pada kegiatan di kalangan Indonesia saja, namun masyarakat negara-negara tetangga pun telah mulai menggunakan bahkan memproduksinya. Bahkan pada pertemuan pemimpin negara di ASEAN pun selalu ada sesi para pemimpin negara yang memakai batik.

Sehingga pemerintah pun menganggap perlu menyelenggarakan even batik berskala besar, seperti menggelar kegiatan dalam bentuk konfrensi, yaitu World Batik Summit  yang mengusung tema Indonesia Global Home of Batik yang  berlangsung pada 28 September hingga 2 Oktober 2011 di Jakarta Convention Center (JCC).

Dalam Batik Summit 2011 diharapkan bisa membentuk forum bagi pengrajin dan industri batik di seluruh dunia. World Batik Conference ini dihadiri 1.000 delegasi asal dunia yang menjadi ajang promosi bagi produsen batik, praktisi, pengrajin dan industri berskala dunia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kata sambutannya pada pembukaan WBC di JCC, Rabu (28/9), mengatakan penting bagi Indonesia untuk mengembangkan dan melestarikan batik, bukan hanya dalam konteks sebagai warisan budaya dunia. "Tetapi mari kita letakkan pula dalam dimensi yang lebih lengkap, meliputi aspek ekonomi, budaya, lingkungan, dan diplomasi," ucap Presiden SBY.

Konfrensi WBS tentunya diharapkan akan membawa hasil yang postif bagi perkembangan batik di Indonesia. Tidak hanya dari segi penjualan produk tetapi, Batik juga harus berakar keberadaannya dan regenerasi agar tetap menjadi warisan atau unggulan budaya yang mendunia untuk bangsa ini.

Profesor Wiendu Nuryanti dalam konfrensi persnya di JCC, Rabu (28/9) mengatakan bahwa WBC akan menghasilkan beberapa persoalan pokok untuk kepentingan Indonesia agar masyarakat dunia lebih mencintai batik.

Di mana dengan menduniakan batik, Indonesia  kedepannya akan menghadapi transformasi budaya antara Indonesia dengan bangsa-bangsa yang lain, sehingga pengembangan dan pelestarian akan nilai-nilai budaya Indonesia harus tetap di jaga keseimbangannya.

Wiendu dalam kesempatan itu juga memaparkan dalam konfrensi ini nantinya selain pengembangan batik yang mendunia, perlu juga dipikirkan bagimana produk batik menjadi produk yang ramah lingkungan di setiap produksinya. "Limbah batik diupayakan agar menjadi limbah yang aman'" ujarnya. Selain itu, untuk regenerasi budaya batik diperlukan sebuah kurikulum dalam pendidikan, dan ini diharapkan akan mampu menciptakan kecintaan pada batik untuk segela usia.

Hasil konfrensi menduniakan batik ini, tentulah tidak lepas dari peranan pemerintah Indonesia untuk mendukung dengan cara memberikan kebijakan-kebijakan yang "memihak" keberadaan batik sebagai warisan budaya dunia.  "Seperti kebijakan pemerintah untuk mewajibkan penggunaan batik juga menjadi kekuatan tersendiri untuk menduniakan batik," ucapnya lagi.

Ditambahkannya, World Batik Summit ini diharapkan dapat membangun antusiasime batik secara internasional dan mendukung praktisi dan penggemar batik di seluruh dunia. Sehingga dapat membangun ikatan yang kuat diantara negara-negara penghasil batik dengan penggemarnya. "Batik Indonesia menjadi batik yang ramah lingkungan," ujarnya mengakhiri. (ard)

Beragam Inovasi dan Kreasi dari Eceng Gondok

Beragam Inovasi dan Kreasi dari Eceng Gondok

stool eceng gondokEceng gondok bagi kebanyakan orang dianggap sebagai tanaman pengganggu karena bisa merusak lingkungan perairan. Proses pertumbuhannya yang sangat cepat bisa menyebabkan lingkungan tumbuhnya seperti sungai bisa tersumbat aliran airnya. Begitu juga dengan masyarakat yang berada di lingkungan waduk dan danau, pesatnya pertumbuhan eceng hingga memenuhi perairan bisa menghalangi aktivitas yang biasa mereka lakukan seperti mencari ikan, aktivitas wisata, menjalankan perahu, hingga keramba apung. Namun bagi orang yang jeli memanfaatkan peluang, eceng gondok bisa menjadi bahan baku pengolahan aneka kerajinan yang bisa menembus pasar ekspor. Hal itulah yang berhasil ditekuni Heru Budiantoro (32) warga Piring II Murtigading Sanden Bantul, yang mendirikan Luthfi Craft sebagai salah satu supplier aneka kerajinan dari eceng gondok kering.
Memulai usaha sejak tahun 2003, Pak Heru mengaku awal mula menjalankan usaha tersebut hanya sebagai sambilan disamping kerja pokoknya di sebuah bengkel mobil. “Ketika bekerja di bengkel saya bertemu dengan salah satu supplier kerajinan yang menawarkan untuk memproduksi kerajinan eceng gondok, kemudian saya tawarkan kepada tetangga-tetangga yang telah lebih dulu ‘maen’ di eceng hingga berlanjut sampai sekarang,” terang Pak Heru tentang awal mula menjalani usaha tersebut. Sejak saat itulah, Pak Heru yang mendapat support dari istrinya memberanikan diri mendirikan Luthfi Craft sebagai nama usaha produksi aneka kerajinan eceng gondoknya.
Peluang Usaha Enceng GondokSaat tim liputan BisnisUKM mengunjungi rumah yang sekaligus sebagai lokasi produksi Rabu (6/3), Pak Heru dan beberapa tenaga produksinya sedang sibuk melayani pesanan aneka keranjang dan plismet dari salah satu perusahaan trading lokal Jogja. Diakui Pak Heru, saat ini Luthfi Craft sudah mampu memproduksi ratusan jenis produk berbahan baku eceng gondok. Ide dan design produk-produk tersebut merupakan kreasi sendiri dan inovasi sendiri dari Pak Heru. “Dalam menjalankan usaha kerajinan, yang paling penting adalah inovasi produk, sehingga para buyers tidak akan bosan dengan produk kita,” terang Pak Heru. Alhasil, saat ini Luthfi Craft mampu menggandeng 6 perusahaan trading yang mampu memasarkan produknya hingga ke Amerika, Australia, Jerman, Spanyol, dan negara Eropa lainnya.
Bahan baku produksi didatangkan langsung dari Rawa Pening Ambarawa seharga 1,4 juta per truk dalam kondisi basah. Selanjutnya eceng gondok tersebut dijemur di Pantai Trisik Kulonprogo sekitar 2 minggu atau sesuai dengan kondisi cuaca. “Proses penjemuran sangat bergantung dengan kondisi cuaca, kalau cerah maka biasanya hanya perlu waktu 1 minggu, namun saat cuaca tidak mendukung bisa memakan waktu hingga 2 minggu,” imbuh Pak Heru tentang proses penjemuran eceng gondok.
Eceng Gondok KeringMenurut Pak Heru, saat ini Luthfi Craft hanya melayani pesanan baik eceran hingga dalam jumlah yang besar. Kondisi eceng gondok yang mudah terkenda jamur dan dimakan rayap menjadi alasan Pak Heru tidak membuat stok produk dalam jumlah banyak. Beberapa produk yang sering diproduksi dan mendapat pesanan antara lain plismet, keranjang, box, dan tempat duduk stool. Harga yang ditawarkan juga bervariasi tergantung jenis dan ukuran produknya. Yang paling murah adalah tatakan gelas/ coaster seharga Rp.2.000,00; sementara yang paling mahal adalah kursi seharga Rp.150.000,00/ pcs. Dengan harga seperti itu, Pak Heru mengakui jika dalam sebulan Luthfi Craft mampu memperoleh omzet rata-rata 4 juta rupiah dengan keuntungan bersih 10 %.
Seperti kebanyakan usaha yang lain, Pak Heru berujar jika selama menjalankan usahanya tersebut modal sering menjadi kendala yang harus dihadapi. Untuk itu, saat ini beliau juga menginvestasikan keuntungan yang didapat dengan membangun usaha konter pulsa. “Saat ini ada empat buah konter pulsa yang kami miliki,” jelas Pak Heru. Namun produksi eceng gondok masih menjadi prioritas bapak satu orang putra tersebut. Beliau memiliki prisip selama eceng gondok masih bisa dikreasi menjadi beragam produk kerajinan, maka dirinya akan terus berkarya dan menciptakan produk-produk inovasi baru dengan bahan baku eceng gondok.
Di akhir wawancaranya, Pak Heru yang kini memiliki 30 tenaga produksi mengakui jika menjalani usaha di bidang kerajinan seperti eceng gondok harus siap mental. Hal tersebut dikarenakan selama ini meskipun melayani banyak pesanan namun keuntungan yang didapat tidaklah banyak. “Saat ini jika ingin mengambil banyak keuntungan resikonya produk tidak akan laku karena persaingan harga yang sangat ketat diantara sesama pengrajin,” kata Pak Heru. Sehingga saat ini beliau mengaku bersyukur masih sering mendapatkan pesanan baik eceran maupun partai besar. Sementara banyak usaha sejenis yang memilih gulung tikar karena kurangnya inovasi dan persaingan harga yang sangat ketat.

Iseng Sulap Enceng Gondok, Jadi Bisnis Beromzet Jutaan Rupiah

Iseng Sulap Enceng Gondok, Jadi Bisnis Beromzet Jutaan Rupiah


Jakarta – Enceng gondok yang sering dianggap sebagai tanaman pengganggu bagi para petani, tidak demikian halnya bagi Rafi Hartono, pemilik Geni Art. Melalui keuletannya, enceng gondok tersebut disulap menjadi produk kreatif yang dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah ke kantongnya.
Usaha kreatif Geni Art dimulai oleh Rafi sejak 2004. Modal awal yang ia keluarkan bisa dibilang sangat kecil, yaitu Rp 45.000. Uang ini ia gunakan untuk membeli perlengkapan gambar, misal penggaris, cutter, dan pensil.
Ide cemerlang untuk memanfaatkan enceng gondok ia temukan secara tak sengaja. Saat itu ia beserta teman-temannya sedang bermain di rawa. Di rawa itulah ia menemukan enceng gondok untuk kemudian dibuat mainan mobil-mobilan sejenis bemo.
“Setelah jadi mobil-mobilan, kita letakkan mainan itu di pinggir jalan dengan harapan ada orang yang tertarik saat melihatnya. Waktu itu kita belum tahu harus ke mana memasarkan produk ini,” ungkap Rafi kepada detikFinance pekan lalu dalam acara ‘Wirausaha Bank Mandiri’.
Harapan Rafi dan temannya terkabul. Suatu ketika datang seseorang yang menawar mobil-mobilan tersebut. Beberapa waktu kemudian, ia didatangi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Semarang dengan tujuan membantu pemasaran dan pemberian dana usaha.
Produk kreatif yang ditawarkan oleh Geni Art diantaranya adalah lokomotif kereta yang dijual dengan harga Rp 375 ribu, mobil bemo Rp 85 ribu, kotak tissue seharga Rp 35 ribu, dan tutup lampu Rp 60 ribu.
Dalam soal pemasaran, Rafi mengaku tidak mengalami kesulitan. Ia mengatakan membuat produk apa saja pasti akan laku, karena produk kreatif buatannya banyak diminati oleh pembeli. Justru yang menjadi kendala utama usahanya adalah terbatasnya SDM yang kreatif.
“Kalau SDM sebenarnya banyak, tapi yang kreatif itu yang sulit mencarinya,” ungkapnya.
Kendala lain yang diungkapkan oleh Rafi adalah menciptakan model atau produk terbaru bagi usahanya. Selama ini ia menciptakan model terbaru melalui ide kreatifnya sendiri dengan melakukan berbagai percobaan atau melalui internet.
Mengenai modal, Rafi juga tidak kuatir, karena saat ini ada bank yang bisa memberikan modal bagi usaha kreatif miliknya. Bank yang disebut oleh Rafi adalah Bank Mandiri.
“Modal bisa dibilang tidak ada masalah. Untuk meminjam pun tidak terlalu sulit. Sekarang sudah ada bank yang percaya pada kerajinan enceng gondok yang ada di tempat kami, jadi agak mudah kalau mau meminjam,” imbuhnya.
Mengenai suplai bahan baku yang biasanya dikeluhkan oleh para pengusaha, Rafi tidak mempersoalkan masalah tersebut. Bahan baku enceng gondok bisa ia peroleh dengan mudah, karena di tempat tinggalnya berdekatan dengan rawa yang memang banyak terdapat enceng gondok.
Jika dulu ia mencari sendiri enceng gondok tersebut, kini ia mengerahkan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan eceng gondok itu. Biasanya ia membeli Rp 3.500/kg enceng gondok kering atau Rp 1.500/kg untuk enceng gondok basah.
Agar enceng gondok bisa dipakai, enceng gondok harus dalam kondisi kering. Jika ingin ecneng gondok yang berbentuk lembaran, maka pertama-tama kupas enceng gondok untuk dibuang isinya. Setelah itu baru kemudian dijemur.
Proses pengeringan biasanya memakan waktu selama 3 hari. Yang perlu diingat dalam proses pengeringan adalah jangan sampai enceng gondok bersentuhan dengan tanah karena akan menimbulkan jamur. Jika sudah demikian, maka enceng gondok tidak bisa dipakai lagi.
Isi enceng gondok ternyata juga tak kalah bermanfaat dibanding kulitnya. Isi enceng gondok yang telah dihancurkan kemudian dicampur dengan lem ternyata juga bisa bermanfaat untuk membuat produk kreatif.
Setelah berbentuk bubur dan dicampur dengan lem, cetak bubur tersebut sesuai keinginan. Salah satu produk Geni Art yang terbuat dari bubur isi enceng gondok adalah tutup kampu.
Dengan ide kreatif dan larisnya pembeli, dalam sebulan Rafi bisa memperoleh omzet sekitar Rp 8 juta/bulan. Pengeluaran yang dikeluarkan untuk usaha ini-pun tidak terlalu besar. Untuk memenuhi permintaan konsumen, dalam sebulan Rafi bisa menghabiskan 150 kg enceng gondok, 10 kaleng lem (30 kg/kaleng), dan 50 kertas daur ulang.
Rafi berharap agar usaha kreatif enceng gondok semakin berkembang dan diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran. Kini, Rafi telah memiliki showroom sendiri di rumahnya. Ia berharap kelak showroom tersebut bisa digunakan sebagai tempat untuk mengumpulkan berbagai hasil kerajinan kretaif di tempatnya.
“Saya ingin agar desa saya menjadi sentra kerajinan enceng gondok dan bisa dikenal hingga ke luar negeri,” pungkasnya.
Jika Anda mempunyai ide kreatif, munculkan ide Anda dalam bentuk sebuah produk. Jika sudah demikian, maka Anda akan mendulang kesuksesan yang sama seperti Rafi Hartono, pemilik Geni Art.

Java Natural Craft - Kerajinan Enceng Gondok

AVA NATURAL CRAFT Menyulap bahan serat alam seperti enceng gondok, Daun pandan dan sebagainya menjadi kerajinan tangan yang unik merupakan kegiatan sehari-hari. anda tentu sudah mengenal tanaman enceng gondok. Selama ini tanaman enceng gondok yang kita kenal dianggap sebagai gulma yang menggangu kelangsungan hidup tanaman .ternyata tanaman yang semula dibuang dan dihindari oleh banyak orang menjadi barang yang dicari setelah berubah bentuk menjadi aneka bentuk barang kerajinan.

Java Natural Craft.yang beralamat di jl WR.Supratman no 9 Bantul,berdiri tahun 2002 dibawah asuhan muh Arief Tri Manto.bergerak dalam bidang craft.yang mengolah serat enceng gondok dan juga daun pandan,menjadi aneka bentuk kerajinan tangan yang bernilai tinggi.Java Natural Craft dengan 50 orang karyawan yg ahli dalam pembuatan tas tangan,berbahan dasar dari anyaman pandan,eceng gondok dan rotan.yang diberi sentuhan akhir dengan aksesoris yang antik,sehingga membuatnya cantik dan menawan.

Dengan bahan dasar yang didapatnya dari pengepul di daerah Pekalongan.perbulannya Java Natural Craft memproduksi rata-rata 400 buah,aneka bentuk kerajinan berbahan daun pandan dan juga enceng gondok.berupa alas makan.figura.tempat sampah,dan lain lain.

Produk kerajinan java Natural Craft,berkisar antara Rp 6000-250.000 perbuah,yang di eksport ke Amerika dan juga Eropa.

java Natural Nraft no telephon 0274-368,beralamat di jl W.R Supratman,No 9 Bantul.( barat masjid Agung Manunggal Bantul) fax 367 979,

Selasa, 01 November 2011

lulur tradisional

Lulur Tradisional

Lulur Tradisional Jogja, Lulur Tradisional Jawa
Ingin berbelanja Lulur Tradisional Jawa ? langsung kunjungi link : Lulur Tradisional
Lulur tradisional adalah lulur yang berbahan baku tradisional atau tumbuhan, tidak dicampur dengan bahan kimiawi. Lulur Tradisional Jawa, tentunya lulur tradisional dengan ramuan khas Jawa. Ramuan yang sudah turun temurun digunakan sejak jaman leluhur sampai sekarang yang terbukti bisa merawat kesehatan dan kecantikan kulit. Sudah banyak yang membuktikan kalau lulur tradisional lebih aman digunakan dan tidak ada efek samping
Lulur tradisional bubuk kering ini berbahan dasar rempah yang ditumbuk halus dan dicampur dengan beras (butiran scrub). Lulur tradisional merupakan produk perawatan yang sudah cukup familier dikalangan perempuan masa kini. Lulur tradisional ini diproduksi murni dari bahan alami tanpa campuran bahan kimia dan berjenis kering (dry scrub) membuatnya lebih awet untuk penyimpanan jangka panjang.
Produk Lulur Tradisional Jawa yang dijual di tokokerajinanJogja.com ada 3 khasiat, yaitu : Lulur Temugiring, Lulur Coklat dan Lulur Lumpur.
Lulur Temugiring mengandung minyak atsiri, amilum, damar, lemak dan tannin yang berfungsi menghaluskan kulit, mengobati bekas luka jerawat dan cacar air. Rona langsat temugiring dapat membuat kulit tampak lebih segar dan cerah
Lulur coklat mengandung antioksidan menjadikan kulit lembab, halus dan melindungi kulit dari sinar matahari. Mengandung kateki membuat kulit bersih dan bercahaya. Sangat cocok digunakan untuk jenis kulit kering
Lulur lumpur berkhasiat menghaluskan kulit serta memperkecil pori - pori. Mencegah kulit keriput, mengencangkan dan menghilangkan selulit.
Lulur Tradisional Jawa memang harus Anda coba …

Pakaian tradisional

Busana Tradisional Jawa-Solo

Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.
Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.
Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam. Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung.
Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.
Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.
Mengenai teknik dan cara membuat baju kebaya sangat sederhana. Potongan dan model kebaya Jawa, yang juga dipakai di Sumatera Selatan, daerah pantai Kalimantan, Kepulauan Sumbawa, dan Timor sebenarnya serupa dengan blus. Baju ini terdiri dari dua helai potongan, yaitu sehelai bagian depan dan sehelai lagi potongan bagian belakang, serta dua buah lengan baju. Modelnya dapat ditambah dengan sepotong bahan berbentuk persegi panjang yang dipakai sebagai penyambung antara kedua potongan bagian muka.
Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher. Semua potongan tersebut dapatdikerjakan dengan mesin jahit ataupun dijahit dengan tangan.
Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris.
Meskipun seni busana berkembang baik di lingkungan keraton, tidak berarti busana di lingkungan rakyat biasa tidak ada yang khas. Busana adat tradisional rakyat biasa banyak digunakan oleh petani di desa. Busana yang dipakai adalah celana kolor warna hitam, baju lengan panjang, ikat pinggang besar, ikat kepala dan kalau sore pakai sarung. Namun pada saat upacara perkawinan, bagi orang tua mempelai biasanya mereka memakai kain jarik dan sabuk sindur. Bajunya beskap atau sikepan dan pada bagian kepala memakai destar.
Busana Basahan
Salah satu jenis busana adat yang terindah dan terlengkap di Indonesia terdapat di keraton Surakarta, Jawa Tengah. Sebab, tiap-tiap jenis busana tersebut menunjukkan tahapan-tahapan tertentu dan siapa si pemakaiannya. Dalam adat busana perkawinan misalnya, seorang wanita dan pria kalangan keraton mengenakan beberapa jenis busana, yang disesuaikan dengan tahapan upacara, yaitu midodareni, ijab, panggih dan sesudah upacara panggih. Pada upacara midodareni, pengantin wanita memakai busana kejawen dengan warna sawitan. Busana sawitan terdiri dari kebaya lengan panjang, stagen dan kain jarik dengan corak batik. Sedangkan pengantin prianya memakai busana cara Jawi Jangkep, yang terdiri dari baju atela, udeng, sikepan, sabuk timang, kain jarik, keris dan selop.
Saat upacara ijab, busana yang dipakai pengantin wanita adalah baju kebaya dan kain jarik, sedangkan pengantin pria memakai busana basahan. Busana basahan pengantin pria disini terdiri dari kuluk matak petak, dodot bangun tulak, stagen, sabuk lengkap dengan timang dan cinde, celana panjang warna putih, keris warangka ladrang dan selop.
Begitu pula pada upacara panggih kedua mempelai memakai jenis busana yang sudah ditetapkan. Pengantin wanita memakai busana adat bersama, basahan. Busana basahan adalah tidak memakai baju, melainkan terdiri dari semekan atau kemben, dodot bangun tulak atau kampuh, sampur atau selendang sekar cinde abrit dan kain jarik cinde sekar merah. Semekan atau kemben terbuat dari kain batik dengan corak alas-alasan warna dasar hijau atau biru dengan hiasan kuning emas atau putih. Kemben disini berfungsi sebagai pengganti baju dan pelengkap untuk menutupi payudara. Kain dodot yang menggunakan corak batik alas-alasan panjangnya kira-kira 4-5 meter, dan merupakan baju pokok dalam busana basahan. Selendang cinde sekar abrit terbuat dari kain warna dasar merah dengan corak bunga hitam dan kain jarik cinde sekar abrit terbuat dari kain gloyar, warna dasar merah yang dihiasi bunga berwarna hitam dan putih. Cara mengenakan kain ini seperti kain jarik tetapi tidak ada lipatan (wiron). Sama halnya dengan pengantin wanita, pengatin pria pun memakai busana adat basahan, berupa dodot bangun tulak, terdiri dari kuluk matak biru muda, stagen, sabuk timang, epek, dodot bangun tulak, celana cinde sekar abrit, keris warangka ladrang, kolong karis, selop dan perhiasan kalung ulur.
Pada upacara panggih ini, biasanya kedua mempelai pengantin melengkapi busana basahan dengan aneka perhiasan. Perhiasan yang biasa digunakan oleh mempelai pria adalah kalung ulur, timang/epek, cincin, bros dan buntal. Sedangkan bagi pengantin wanita, perhiasan yang biasa dipakai adalah cunduk mentul, jungkat, centung, kalung, gelang, cincin, bros, subang dan timang atau epek.
Berbeda dengan tahapan upacara sebelumnya, pada upacara setelah panggih, pengantin wanita memakai busana kanigaran, yaitu terdiri dari baju kebaya, kain jarik, stagen dan selop. Sedangkan pengantin pria menggunakan busana kepangeranan, yang terdiri dari kuluk kanigoro, stagen, baju takwo, sabuk timang, kain jarik, keris warangka ladrang dan selop.
Sebagai kelengkapan, dalam busana adat perkawinan, maka baik pengantin wanita maupun pria biasanya dirias pada bagian wajah dan sanggul. Tujuannya adalah agar mempelai wanita kelihatan lebih cantik dan angun dan pengantin pria lebih gagah dan tampan. Bagi pengantin pria, cara meriasnya tidak sedemikian rumit dan teliti sebagaimana pengantin wanita yang harus dirias pada bagian wajahnya mulai dari muka, mata, alis, pipi dan bibir.
Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris, swastika (misalnya bintang dan matahari), hewan (misal : burung, ular, kerbau, naga), tumbuh-tumbuhan (bunga teratai, melati) maupun alam dan manusia. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal, pilin, ikal rangkap dan pilin ganda. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang, yang melambangkan kesuburan.
Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis, seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Sedangkan kain sido mukti, kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai.
Fungsi pakaian, awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu, maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.
Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan; fungsi estetis, yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik; fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas.

permainan tradisional

Permainan Tradisional

Koba
  Permainan ini amat mudah dilakukan dan ia menggunakan dua jenis alat sahaja iaitu sekeping serpihan batu leper dan kotak rokok. Dalam hubungan ini lazimnya kanak-kanak pada masa dahulu suka mencari dan mengumpulkan kotak rokok untuk digunakan dalam permainan ini. Tempat bermain tidak memerlukan kawasan yang luas. Setiap permainan memerlukan sekurang-kurangnya 2 orang. Bilangan pemain yang paling sesuai ialah 3 atau 4 orang.

Layang-Layang
  Permainan layang-layang atau wau mengandungi unsur-unsur budaya Melayu asli terutama pada bentuk layang-layang atau wau itu sendiri. Di Malaysia lazimnya permainan layang-layang dilakukan selepas musim menuai padi atau pada masa nelayan tidak dapat pergi ke laut menangkap ikan. Antara jenis layang-layang ialah Layang-layang Baruk, Layang-layang Puyuh, Layang-layang Burung dan yang terkenal ialah Wau Bulan.
lapangan_layangan

Sabung Ayam
  Permainan 'menyabung ayam' disebut juga sebagai 'berlaga ayam'. Berdasarkan pelbagai peristiwa dan cerita yang tertulis di dalam buku-buku hikayat termasuk juga cerita-cerita mulut, kononnya 'menyabung ayam' merupakan permainan utama bagi golongan di raja di rantau ini di zaman lampau. Kononnya pertaruhan antara raja-raja di zaman dahulu dalam permainan 'menyabung ayam' ini hingga ke tahap mempertahankan negeri masing-masing.

Biji Saga
  Permainan ini juga dikenali dengan nama 'main buah saga'. Nama yang lebih tepat ialah biji saga kerana bahan yang dijadikan alat permainan ini adalah biji saga. Permainan ini sesuai dimainkan oleh kanak-kanak perempuan. Bagaimanapun ada juga kana-kanak lelaki yang bermain permainan ini. Tempat bermain yang paling sesuai ialah di atas simen. Lazimnya apabila permainan ini diadakan, rakan-rakan sebaya akan duduk berhampiran untuk menyaksikan kecekapan dan kebolehan sesesorang pemain melagakan biji saga yang diselerakkan di atas lantai.

Berlaga Kerbau dan Lembu
  Kegemaran berlaga lembu atau kerbau terdapat di kalangan masyarakat petani khususnya yang berusaha menyerjakan sawah padi. Di antara tempat yang kerap diadakan permainan tersebut adalah Perlis, Kedah dan Kelantan. Menurut keterangan orang tua-tua salah satu tujuan mengadakan permainan ini adalah untuk menggalakkan orang memelihara lembu atau kerbau dengan baik. Permainan ini juga adalah untuk hiburan. Bagaimanapun dalam perkembangannya, permainan berlaga lembu dan kerbau telah menimbulkan gelaja kurang sihat dalam masyarakat setempat. Temasya tersebut telah menjadi tempat orang mewujudkan satu jenis perjudian.

Congkak

Permainan congkak ialah sejenis permainan Melayu tradisional yang digemari oleh kaum wanita dan kanak-kanak. Permainan ini memerlukan dua orang pemain.Alatan yang digunakan dalam permainan ini adalah papan congkak dan buah congkak. Kadang-kadang sebagai ganti papan congkak, lubang-lubangnya dibuat di atas tanah. Sementara biji-biji congkak pula ialah guli-guli kaca, buah getah, biji saga, batu-batu kecil dan sebagainya. Setiap papan congkak hanya boleh dimainkan oleh dua orang sahaja.
Ia merupakan jenis permainan Anjung. Tujuan permainan ialah untuk mengumpul dan giliran menapak akhir. Bilangan pemain ialah seorang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Papan congkak dan cakak. Gelanggangnya adalah sebuah papan congkak yang mengandungi sekampong 5, 7, 8 atau 9. Rumah Anak serta 1 Rumah Ibu. Tiap Rumah Anak diisi cakak.


Papan congkak mengandungi 14 lubang yang dipanggil "kampung". Terdapat dua lubang besar di setiap hujung papan congkak. Lubang ini dipanggil "rumah".



Cara-cara Bermain Congkak


a)Permainan ini dimulakan serentak dengan memasukkan sebiji "buah" ke dalam setiap "kampung" sendiri dan seterusnya masukkan ke dalam "rumah". Seterusnya "buah" hendaklah dimasukkan ke dalam "kampung" lawannya. Jika ia singgah di kampung lawan yang tidak ada buah ia dikira mati.
(b) Jika buah terakhir singgah di kampung lawan yang mempunyai buah, maka ia boleh meneruskan permainan.
(c) Jika ia mati di kampung sendiri, bertentangan dengan kampung lawan yang mempunyai buah, ia berhak mengambil buah lawannya itu.
(d) Sekiranya ia mati di kampung sendiri setelah melalui kampung lawan dan didapati di kampung lawan tidak ada buah, maka ia mati dalam kerugian.
(e) Di akhir permainan buah hanya tinggal beberapa biji sahaja dalam kampung masing-masing. Mereka dikehendaki berjalan tapak secara serentak menuju ke arah rumah masing-masing. Sekiranya salah seorang kehabisan buah dalam kampung ianya dikira kalah

Batu Seremban
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan permainan ialah untuk memungut mata timbangan terbanyak. Bilangan pemain ialah beberapa pasukan atau satu (1) orang sebelah / sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Lima (5) uncang (3 cm persegi satu butir). Gelanggangnya adalah Permukaan rata.

Ceper
  Permainan ini hampir sama bentuknya dengan 'main koba' tetapi bahan yang digunakan adalah berbeza. Bahan-bahan yang dijadikan alat permainan ini ialah tutup botol minuman yang diperbuat daripada timah dan ia dileperkan. Satu lagi alat yang digunakan ialah kepingan serpihan batu seperti yang digunakan dalam permainan koba.

Dam Aji
  Merupakan jenis permainan Anjung. Tujuan permainan ialah untuk mengalahkan pihak lawan. Bilangan pemain ialah dua orang seperlawanan dan satu (1) orang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Tir dan Papan Dam. Gelanggangnya adalah Permukaan rata.

Dam Harimau
  Merupakan jenis permainan Anjung. Tujuan permainan ialah untuk mengumpul dan giliran menapak akhir. Bilangan pemain ialah seorang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Papan congkak dan cakak. Gelanggangnya adalah sebuah papan congkak yang mengandungi sekampong 5, 7, 8 atau 9; Rumah Anak serta 1 Rumah Ibu. Tiap Rumah Anak diisi cakak.

Galah Panjang
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan dan matlamat permainan adalah untuk mengalahkan pihak lawan melalui jumlah Bilon yang diperolehi. Pemain terdiri daripada regu iaitu tiap-tiap regu mestilah mengandungi lima (5) orang pemain ( empat (4) orang pemain dan satu (1) simpanan ). Perlawanan di dalam permainan ini adalah berkonsepkan ‘Pertahan’ oleh satu regu dan ‘Penyerang’ oleh satu regu yang lain. Gelanggang Galah panjang di bina di eprmukaan yang rata dan mendatar.

Gasing
  Permainan gasing merupakan permainan untuk orang lelaki muda dan dewasa. Bagaimanapun ada juga jenis gasing keciltetapi bentuknya sama dimainkan oleh golongan kanak-kanak. Gasing kanak-kanak ini terbahagi kepada 2 jenis iaitu 'gasing Melayu' dan 'gasing Cina'. Pada masa dahulu permainan gasing merupakan sejenis permainan yang mendapat perhatian umum dan ramai peminatnya. Di samping bermain sebagai riadah dan memenuhi masa lapang, permainan ini dimeriahkan melalui perlawanan antara pasukan di peringkat kampung, daerah dan negeri.

Getah
  Permainan ini dinamakan 'main getah' kerana bahan yang digunakan ialah getah halus berbentuk gelang yang digunakan sebagai pengikat bungkusan atau barang-barang kecil. Ia sesuai dimainkan oleh kanak-kanak lelaki atau perempuan dan biasanya mereka bermain di dalam rumah. Tempat bermain adalah di atas simen atau lantai papan yang tidak berlubang. Permainan ini merupakan permainan masa lapang terutama di musim hujan kerana pada masa itu kanak-kanak terpaksa berada di dalam rumah. Untuk meluangkan masa lapangnya mereka melakukan permainan ini.

Guli
  Permainan guli amat digemari oleh kanak-kanak di merata-rata tempat di Malaysia. Ia tidak memerlukan ruang atau padang yang luas. Di kampung-kampung, biasanya kanak-kanak bermain guli di halaman rumah. Permainan ini tidak mempunyai musim tertentu. Alat permainan ini hanya merupakan benda bulat yang diperbuat daripada batu dan kapur. Lazimnya 2 jenis guli akan digunakan iaitu guli batu dan guli kapur.

Gusti Tangan
  Merupakan jenis permainan Anjung. Tujuan permainan ialah untuk merebahkan tangan lawan. Bilangan pemain ialah seorang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Meja. Gelanggangnya adalah Satu ( 1 ) permukaan meja dengan lebarnya antara 0.6 – 0.8 meter; Dilukis dua ( 2 ) lengkang dengan garis pusat 0.1 meter untuk letak siku; Jarak antara dua (2) lengkang (diukur pada pusat) ialah antara 30 cm – 40 cm

Ketingting
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan permainan ialah untuk mengimbang badan ke padan/ paduk. Bilangan pemain ialah beberapa pasukan atau tiga (3) orang seregu sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Gundu/ Tagan. Gelanggangnya adalah permukaan yang rata; dibina Rumah Ketinting yang mengandungi 9 petak segi empat sama berukuran 40 cm setiap petak iaitu Satu petak – loteng, Dua petak – serambi, Satu petak – tengah, Satu petak-kelek, Dua petak-lambur, Dua petak-tangga. Jarak paduk dengan tangga 5 meter.

Ketuk Keli
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan permainan ialah untuk mengukur sukat terbanyak. Bilangan pemain ialah 3 orang seregu sebelah/ sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Ketuk sepanjang 40 sm, bergarispusat 2 sm, Keli sepanjang 15 sm bergaris pusat 2 sm. Gelanggangnya adalah Kawasan lapang mengandungi Rumah di sudut berukuran 3 sm lebar X 16 sm panjang, Dua (2) watas bersudut tepat (90) dibina dari pangkal sudut rumah. Watas lengkok papan berjarak 2.5 meter diukur dari sudut.

Sepak Bulu Ayam
  Di beberapa daerah di negeri Johor permainan ini dikenali dengan nama ' sepak yem'. Ia sangat digemari oleh kanak-kanak lelaki di peringkat sekolah rendah. Alat yang digunakan dalam permainan ini ialah serangkai empat helai bulu ayam yang diperbuat. Rangkaian bulu ayam itu dicacak serta diikat di atas sekeping kertas tebal atau sekeping getah yang berukuran dua inci garis pusat. Permainan ini ialah menyepak bulu ayam itu ke atas, seberapa kali yang dapat tanpa jatuh ke tanah.

Sepak Raga Ratus
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan permainan ialah untuk menimbang bola. Bilangan pemain ialah beberapa pasukan atau lima (5) orang seregu sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Bola raga. Gelanggangnya adalah permukaan rata, dibina lengkang bulatan bergaris pusat tiga (3) meter.

Sorok-Sorok
  Permainan ini merupakan permainan masa lapang. Di sesetengah tempat ia dipanggil dengan nama 'main ibu' atau 'main induk'. Permainan sorok-sorok dilakukan oleh sekurang-kurangnya dua orang dan selebih-lebihnya sepuluh orang. Ia lebih sesuai dimainkan oleh kanak-kanak lelaki. Namuin demikian, ada juga kumpulan kanak-kanak perempuan yang bermain sorok-sorok sesama mereka. Tujuan permainan ini adalalah untuk mencari pemain-pemain yang menyorokkan diri di sesuatu tempat.

Tating Lawi
  Merupakan jenis permainan Laman. Tujuan permainan ialah untuk menating bola lawi. Bilangan pemain ialah beberapa pasukan atau satu (1) orang sepasukan. Alatan yang digunakan di dalam permainan ini ialah Bola lawi. Gelanggangnya adalah Permukaan rata.